Orang-orang seperti mereka sungguh tidak pandai menarik simpati manusia. Tanpa bermaksud merendahkan sesama manusia, namun para manusia bagi mereka sangat tidak pantas untuk dijadikan sumber simpati, penghargaan dan penghormatan. Bagi mereka, itu terlalu murah dan rendah. Simpati yang mereka cari adalah yang bersumber dari Allah azza wajalla. Karenanya, mereka tidak akan pernah berlagak khusyuk dan zuhud di hadapan manusia, lalu kehilangan itu semua saat berhadapan dengan Allah.
Apakah Anda tahu bahwa seorang tabi'in besar, Muhammad bin Shirin bila bersama dengan manusia di siang hari ia justru sering tertawa. Namun, saat malam mulai merangkak memeluk bumi, bila engkau melihat bagaimana ia beribadah dan bermunajat, ia menjelma bagai orang yang telah membunuh semua penghuni sebuah desa. Seolah ia telah melakukan dosa yang tak terampuni.
Seorang tabi'in besar lain yang bernama Ayyub AsSyikhtiani pernah mengatakan, "Sungguh demi Allah! seorang hamba belum benar-benar jujur menghamba kecuali bila ia telah merasa gembira saat tidak ada seorang pun yang mengetahui di mana ia berada."
Dan, bila ia sedang mengajarkan hadits Nabi Muhammad Saw lalu hatinya tersentuh hingga hampir menangis, ia segera menolehkan wajahnya seraya berkata, "Sakit flu ini terasa agak berat." Seolah-olah ia sedang sakit. Ia melakukannya. demi menutupi air matanya yang hampir jatuh. Begitulah, selalu ada-ada saja cara para Al-Akhfiya' untuk menutupi amalan saleh mereka dari pandangan manusia.
Yang juga tak mengagungkannya, tabi'in lain bernama Muhammad bin Wasi' pernah bertutur, "Ada orang selama 20 tahun lamanya sering menangis karena Allah, namun selama itu pula tidak sekalipun istrinya mengetahui tangisannya," Subhanallah! seorang wanita yang hidup dengannya selama 20 tahun, tidak mengetahui bagaimana ia melewati malam-malamnya dengan tangisannya.
Kisah lain adalah kisah seorang alim besar bernama Imam Al-Mawardi. Salah satu karyanya yang mungkin anda kenal adalah Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah, sebuah karya besar dalam politik Islam. Ternyata, semua karya ilmiahnya tidak satu pun
muncul ketika ia masih hidup. Semua karyanya tersembunyi di sebuah tempat. Saat kematiannya semakain dekat, barulah ia berpesan kepada seorang yang ia percaya, "Semua kitab yang di tempat fulan itu adalah karya-karyaku. Kelak bila aku berhadapan dengan sakaratul maut, letakkanlah tanganmu di telapak tanganku. Bila saat rohku lepas dan ternyata aku mengenggam tanganmu, itu bertanda Allah tidak menerima satu pun karya-kayaku. Kumpulkanlah semuanya lalu buanglah ke sungai Dajlah saat malam tiba. "Bila telapak tanganku terbuka dan tidak menggenggam tanganmu, maka itu bertanda aku telah beruntung dan aku telah menulisnya dengan niat ikhlas."
Demikianlah pesan sang Imam. Dan saat kematian benar-benar berada di sisinya, lalu ruhnya kembali kepada Sang Pencipta, telapak tangannya terbuka dan tidak menggenggam tangan orang kepercayaannya. Itu bertanda ia diterima oleh Allah. Maka aku pun menyebarkan karyakaryanya pun disebarkan sepeninggalnya."
Ada juga ungkapan Imam Asy-Syafi'i, dorongan keikhlasan yang kuat mendorongnya suatu ketika untuk mengatakan, “Sungguh aku merasa bahagia andai saja manusia dapat mengetahui ilmu yang kuajarkan ini tanpa ada satu pun yang dinisbatkan kepadaku selama-lamanya, sehingga dengan begitu aku mendapatkan pahala tanpa perlu mendapatkan pujian dari manusia."
Duhai betapa beratnya mencapai derajat itu! Derajat para akhfiya', para manusia-manusia yang tersembunyi.
0 Komentar